Dhuzur

1). Dalam Kitab Hadits Bukhari jilid I bab Wujubuz Zakat halaman 242 terdapat hadits yang berbunyi telah bersabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu sungguh-sungguh memfardlukan atas mereka lima shalat di dalam tiap-tiap hari dan malam”.

Hadits ini isinya dapat kita simpulkan sebagai berikut :
(a). Tiap-tiap ummat Islam, laki-laki dan perempuan, kaya, miskin, merdeka, budak, sehat, sakit, mukim, musafir itu diwajibkan shalat fardlu lima.
(b). Yang dimaksud lima shalat fardlu dalam hadits tersebut adalah :
shalat fardlu isya’, shalat fardlu subuh, shalat fardlu dhuhur, shalat fardlu ashar dan shalat fardlu maghrib.
(c). Shalat fardlu lima tersebut tidak boleh kurang dari lima atau lebih dari lima, karena kurang dari lima atau lebih dari lima itu adalah mengurangi atau menambah ketetapan shalat lima yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala.
(d). Di dalam tiap-tiap hari dan malam, hari apa saja mulai hari Ahad (Minggu), Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu wajib mengerjakan shalat lima tersebut.
(e). Tidak boleh mengubah, mengganti nama atau tempatnya shalat fardlu lima tersebut meskipun jumlahnya tetap lima.

(2). Dalam Kitab Al Qur’an Surat An Nisa’ ayat 103 : “Sesungguhnya shalat itu adalah atas orang-orang beriman wajib ditentukan waktunya”.

Jadi seluruh shalat fardlu (seperti shalat fardlu tiap-tiap hari dan malam yang jumlahnya ada lima, maupun shalat fardlu tiap-tiap tujuh hari sekali) semuanya itu telah ditentukan waktunya sendiri-sendiri. Tidak ada satupun shalat fardlu yang waktunya bersamaan dengan waktunya shalat fardlu yang lain. Tiap-tiap shalat fardlu wajib dikerjakan tepat pada tiap-tiap waktunya.

(3). Waktunya shalat Jumat sudah ada ketetapan waktu sendiri dalam Kitab Al Qur’an yaitu pada yaumil Jumat (hari Jumat). Lihat Surat Jumu’ah ayat 9 : “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

(4). Isya’, Subuh, Dhuhur, Ashar dan Maghrib itu adalah nama waktu. Jumat itu nama hari. Hari adalah waktu.
Apabila dikatakan :
Shalat Isya’ artinya shalat di waktu Isya’
Shalat Subuh artinya shalat di waktu Subuh
Shalat Dhuhur artinya shalat di waktu Dhuhur
Shalat Ashar artinya shalat di waktu Ashar
Shalat Maghrib artinya shalat di waktu Maghrib
Shalat Jumat artinya shalat di waktu (hari) Jumat

(5). Tidak ada nash Al Qur’an dan Hadits Shahih yang menerangkan bahwa waktunya shalat fardlu Jumat itu apabila sudah masuk waktu dhuhur, baik waktu dhuhur di hari Jumat maupun waktu dhuhur selain hari Jumat.

(6). Apabila pada hari Jumat itu ada orang yang tidak mengerjakan shalat fardlu Dhuhur, maka orang tersebut pada hari Jumat itu hanya mengerjakan shalat wajib empat yaitu : shalat fardlu Isya’, shalat fardlu Subuh, shalat fardlu Ashar, dan shalat fardlu Maghrib. Orang tersebut mengurangi ketentuan dari Allah Ta’ala yaitu kewajiban shalat fardlu sehari semalam yang lima, karena dia meninggalkan satu shalat fardlu yaitu shalat fardlu Dhuhur.

(7). Allah Ta’ala mewajibkan kepada ummat Islam shalat fardlu selain shalat fardlu yang lima tersebut diantaranya shalat fardlu tiap-tiap tujuh hari sekali (shalat fardlu Jumat). Tepat waktunya mengerjakan itu ialah pada waktu yang dinamakan yaumil Jum’at atau hari Jumat.

(8). Pendapat yang mengatakan shalat Jumat itu sebagai ganti/penghapus (menggugurkan) kewajiban shalat Dhuhur adalah pendapat yang tidak ada dasarnya dalam Kitab Al Qur’an dan Hadits Nabi.

(9). Di dalam Al Qur’an tidak ada satu ayatpun yang memerintahkan shalat Dhuhur sesudah mengerjakan shalat Jumat.

(10). Di dalam Hadits Nabi tidak ada perintah shalat Dhuhur sesudah shalat Jumat.

(11).D i dalam Al Qur’an dan Hadits Nabi tidak ada keterangan bagi orang yang sudah mengerjakan shalat Jumat tidak dibenarkan mengerjakan shalat Dhuhur.

(12). Keterangan di dalam Al Qur’an dan Nabi yaitu wajib mengerjakan shalat fardlu lima – termasuk shalat fardlu Dhuhur- tiap tiap hari, dan wajib mengerjakan shalat Jumat tiap-tiap hari Jumat.

(13). Mengerjakan shalat Dhuhur sesudah shalat Jumat itu adalah bid’ah dlolalah karena tidak ada perintah di dalam Al Qur’an dan Hadits Nabi.

(14). Kita harus bisa membedakan antara orang yang mengerjakan shalat Dhuhur sesudah shalat Jumat, dan orang yang mengerjakan shalat Dhuhur dan pula mengerjakan shalat Jumat di hari Jumat.

(15). Yang dikatakan orang mengerjakan shalat Dhuhur sesudah shalat Jumat itu demikian :
(a). Mereka itu bila mengerjakan shalat Dhuhur pada hari Jumat dengan niat “Saya mengerjakan shalat Dhuhur ba’dal Jum’ati”.
(b). Mereka itu berpendapat bahwa shalat Dhuhur itu adalah shalat ba’diyatal jumu’ati.
(c). Oleh karena shalat Dhuhur itu mereka anggap shalat ba’diyatal jumu’ati, maka mereka itu tidak akan mengerjakan shalat Dhuhur apabila tidak mengerjakan shalat Jumat. Jadi mereka itu shalat Dhuhur tujuh hari sekali yaitu pada hari Jumat setelah shalat Jumat.

(16). Shalat Dhuhur wajib dikerjakan tiap-tiap hari pada waktu dhuhur.

(17). Shalat Jumat wajib dikerjakan tiap-tiap hari Jumat.

(18). Sholat Jumat bukan pengganti shalat Dhuhur. Shalat Jumat bukan penghapus shalat Dhuhur.

(19). Setelah shalat Jumat tidak ada perintah shalat Dhuhur. Itu adalah benar, sebab :
(a). Perintah shalat Dhuhur itu bukan setelah shalat Jumat.
(b). Shalat Dhuhur termasuk shalat lima waktu diperintahkan sebelum Rasulullah SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah, dan shalat Jumat diperintahkan setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

(20) Shalat Dhuhur itu tidak ada hubungan apa-apa dengan shalat Jumat. Janganlah menghubungkan antara shalat Dhuhur dengan shalat Jumat yang memang tidak ada hubungannya sama sekali.

(21). Suatu perbuatan yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW pada waktu tertentu, apabila Rasulullah SAW sendiri tidak menerangkan bahwa perbuatan yang Beliau lakukan itu hukumnya wajib dan waktunyapun wajib, maka kita tidak boleh membuat ketentuan hukum wajib dan waktunyapun wajib berdasarkan fi’il Rasulullah SAW. Contohnya apabila orang membuat ketentuan sendiri bahwa waktunya shalat Jumat itu wajib di waktu dhuhur berdasarkan fi’il Rasulullah SAW.

(22). Apabila orang boleh membuat ketentuan hukum wajib sendiri berdasarkan fi’il Rasulullah SAW , maka akan bermunculan hukum-hukum wajib yang bukan dari ketentuan Allah Ta’ala dan Rasulullah SAW melainkan dari fikiran pendapat masing-masing orang.

Niat Dan Do’a Klik Di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: