larangan

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

 Bismillahirrohmanirrohim

Dengan ini saya menulis dengan apa adanya yang sayaa ketahui..

Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah dua sumber hukum Islam yang menjadi pegangan hidup umat Islam. Alloh sendiri yang akan menjaga Al-Qur’an dari pengubahan, penambahan atau pengurangan, walaupun hanya satu huruf atau satu harakat saja. Begitu pula dengan As Sunnah sebagai penjaga makna atau penjelas Al-Qur’an juga akan terjaga. Maka tidak ada seorangpun yang membuat-buat hadits dusta kecuali akan terkuak kepalsuannya.

Sebab, Alloh sudah berjanji akan menjaga kemurnian wahyu-Nya dari kepalsuan, baik wahyu yang berupa Al-Qur’an maupun Hadits. Dimana Alloh berfirman yang artinya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikru, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

Lalu pertanyaannya, Bagaimana Hadits Bisa Terjaga dan terpelihara…? Nah, inilah keistimewaan Islam yang tidak ada pada agama lain, yaitu masalah sanad alias jalur periwayatan hadits. Dengan sanad itulah para ulama ahli hadits bisa membedakan manakah hadits shahih, hadits dhaif dan hadits maudhu’ alias palsu. Sanad adalah susunan orang-orang yang meriwayatkan hadits. Para periwayat tersebut diperiksa satu persatu secara ketat tentang riwayat hidupnya, apakah ia seorang jujur ataukah pendusta, hafalannya kuat ataukah lemah dan pemeriksaan ketat lainnya. Jika seluruh rawi dalam sanad hadits lulus pemeriksaan maka hadits tersebut berstatus shahih yang wajib kita jadikan pegangan hidup. Dan dengan demikian tersingkaplah hadits-hadits palsu bikinan para pendusta yang sengaja membuatnya untuk merusak agama Islam. Hanya orang-orang jahil saja yang bisa tertipu oleh mereka.

Sebagaimana kita bersikap ilmiah dalam perkara-perkara dunia maka kita juga harus bersikap ilmiah dalam perkara agama bahkan harus lebih Ilmiah. Jangan mengambil sebuah hukum atau syariat yang bersumber dari hadits lemah apalagi hadits palsu. Atau ikut-ikutan menyebarkan hadits-hadits lemah dan palsu tanpa menjelaskan status hadits itu. Bahkan ada yang dengan mudahnya mengatakan: “Hadits shahih!” padahal hadits tersebut palsu.subhanallah!! Perbuatan seperti ini telah diancam dalam sebuah hadits yang mulia, “Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka.” (HR. Bukhari Muslim).

Saat ini Betapa banyak hadits lemah dan palsu yang beredar di kalangan umat Islam karena mereka tidak selektif dalam mendengar dan mengambil hadits, akibatnya adalah munculnya masalah dan penyimpangan dan kesesatan dalam kehidupan bermasyarakat, beribadah, berakhlak dan berakidah.

Di negeri kita ini banyak sekali hadits-hadits lemah dan palsu yang laris di telinga masyarakat. Di samping ketidaktahuan tentang ilmu hadits, banyaknya para da’i yang menggembor-gemborkan hadits-hadits tersebut memberikan andil dalam menyemarakkannya. Salah satu contohnya ialah hadits, “Carilah ilmu sekalipun ke negri Cina.” Hadits ini adalah hadits mungkar dan batil, tidak ada asal usulnya serta tidak ada jalan yang menguatkannya. Demikianlah para imam ahli hadits telah mengomentari hadits ini seperti Imam Bukhari, Al Uqaili, Abu Hatim, Yahya bin Ma’in, Ibnu Hibban dan Ibnu Jauzi. Selain dari sisi sanad yang lemah, maka hadits inipun juga memiki cacat dalam maknanya. Sebab negeri maju ketika itu adalah romawi dan persi, bagaimana Rosululloh hendak memerintahkan sahabatnya untuk belajar ke negeri China yang bukan termasuk negeri adidaya? Dan bagaimana pula Rosululloh menyuruh sahabatnya belajar pergi ke negeri kafir dan musyrik yang jelas-jelas akan membahayakan akidahnya? Wallahul musta’an!

Hadits lain yang laris manis adalah hadits, “Perselisihan umatku adalah rahmat.” Hadits tersebut adalah hadits yang tidak ada asal usulnya dan tidak dikenal oleh ahli hadits, artinya mereka tidak pernah mendapati hadits ini baik dalam status shahih, dhaif ataukah maudhu’. Bahkan Imam Ibnu Hazm berkata, “Ini adalah perkataan yang paling rusak. Sebab jika perselisihan adalah rahmat, maka konsekuensinya persatuan adalah azab. Ini tidak mungkin dikatakan seorang muslim. Karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan serta antara rahmat dan azab.”

Contoh sebuah hadits palsu yang terkenal adalah hadits, “Barang siapa yang shalat seratus rakaat pada malamnishfu sya’ban dari bulan sya’ban, ia baca pada setiap rakaat sesudah Al-Fatihah: Qulhu sepuluh kali, maka tidak ada seorangpun yang shalat seperti itu melainkan Alloh kabulkan semua hajat yang ia minta pada malam itu ….” Hadits ini palsu dan menjadi sumber bid’ah dalam peringatan malam nishfu sya’ban, memberatkan umat dengan sesuatu yang tidak pernah diajarkan Rosululloh. Dan beliau sendiri tidak pernah mengucapkan perkataan ini, apalagi mengamalkannya!

Jadi, Dari keterangan tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa hadits maudhu’ merupakan sebuah ancaman besar bagi umat Islam.

Rosululloh dengan tegas memberi peringatan kepada orang-orang yang berbohong atas nama beliau seperti sabdanya “Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka.” (HR. Bukhari Muslim).

Para ulama Ahlu Sunnah wal Jamaah, sepakat  mengharamkan berbohong atas nama nabi dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan hukum dan perkara-perkara yang berkaitan dengan targhib dan tarhib. Semuanya termasuk dalam salah satu dari dosa-dosa besar. Para ulama telah berijma’ bahwa haram berbohong atas nama seseorang, apalagi berbohong atas seorang yang diturunkan wahyu kepadanya.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahlu Sunnah wal Jamaah berkenaan dengan kedudukan orang yang membuat hadits tersebut, apakah dia menjadi kafir dengan perbuatannya itu dan adakah periwayatannya diterima kembali sekiranya dia bertaubat.  Jumhur Ahlu Sunnah berpendapat bahwa orang yang membuat hadits-hadits maudhu’ tidak menjadi kafir dengan pembohongannya itu, kecuali ia menganggap perbuatannya itu halal.

Adapun hukum bagi yang meriwayatkan hadits palsu, maka terbagi kedalam dua kelompok, jika ia sengaja menyebarkan hadits palsu, maka ia telah berdosa besar. Namun jika ia menyebutkan dan menjelaskan kepada ummat bahwa hadits tersebut adalah palsu, maka hal ini boleh-boleh saja. Sebagaimana para ulama pun banyak yang mengumpulkan hadits-hadits palsu dalam satu kitab, lalu kitab itu diberi nama dengan “Kitab Kumpulan Hadits palsu”. Maka hal ini sangat boleh dan bahkan dapat bermanfaat untuk kaum muslimin. adapun hukum mengamalkan hadits palsu adalah haram, karena ia telah mengamalkan ajaran yang bukan berasal dari Rosululloh. sebab pada hakikatnya hadits palsu itu bukanlah perkataan Rosululloh.

Maka dari itu Untuk menghindari terjerumusnya pada perkara yang tidak ringan itu, kaum muslimin hendaknya serius mendeteksi hadits-hadits palsu. Sebab hadits tersebut terus sudah banyak beredar  di kalangan umat Islam khususnya di tanah air. Jika tidak, akan banyak umat Islam yang terpedaya dan tersesat, dikarenakan salah satu sebab penyimpangan aliran sesat adalah kesalahan dalam mengambil sumber. Wallohu ‘alam…..

Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: